Menu Click to open Menus
Home » Artikel » Pengukuran Kinerja Koperasi – Menurut PPK RI No. 20/PPK/1997

Pengukuran Kinerja Koperasi – Menurut PPK RI No. 20/PPK/1997

(165 Views) Desember 17, 2015 4:42 am | Published by | No comment

Pengukuran kinerja perusahaan ataupun badan usaha, seperti koperasi adalah hal yang sangat penting dalam proses perencanaan, pengendalian serta proses transaksional yang lain, karena dengan pengukuran kinerja pengelola koperasi dapat mengetahui efektivitas dan efisiensi revenue cost, penggunaan aset, proses operasional organisasi manajemen dari koperasi, selain itu pengelola juga memperoleh informasi manajemen yang berguna untuk umpan balik dalam rangka perbaikan koperasi yang menyimpang kemudian dengan pengukuran kinerja koperasi dapat membantu pengambilan keputusan mengenai kebutuhan pendidikan pelatihan sumber daya manusia (SDM), perencanaan dan pengendalian dalam proses manajemen koperasi lebih lanjut (Ihsan, 2005: 5)

Sedangkan pengukuran kinerja terhadap koperasi menurut peneliti perlu dilakukan agar koperasi memiliki tujuan dan arah yang jelas, adanya standar yang telah ditetapkan dapat memotivasi pengelola dalam mencapai tujuan tersebut serta pengawasan untuk mencegah terjadinya penyelewengan. Adanya pengukuran kinerja diharapakan dapat meningkatkan usaha koperasi sehingga kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat tercapai.

Penilaian Kinerja Koperasi dengan Tiga Sehat (3 S) Sehat Organisasi, Sehat Mental dan Sehat Usaha (sebelum 1997)

Kriteria tiga sehat yang dimaksud dalam hal ini adalah mental sehat, organisasi sehat, dan usaha sehat. Pembinaan koperasi atas dasar tiga sehat ini adalah relevan dengan tuntutan pembaharuan oleh masyarakat pada waktu ini, dalam hal ini dapat diartikan bahwa mental sehat adalah tidak hanya berpikir secara kebendaan, tetapi juga menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan sosial 20 diatas nilai-nilai kebendaan. Tercermin kejujuran dan keadilan dalam kegiatan pengurus dan anggota koperasi. Untuk sehat usaha dapat diartikan bahwa usaha koperasi berjalan secara kontinu, dan pada setiap akhir tahun buku terdapat laba/rugi setelah dipenuhinya ketentuan-ketentuan yang berlaku, serta adanya keikutsertaan anggota dalam usaha koperasi. Sedangkan untuk sehat organisasi adalah adanya kesadaran, sekurang-kurangnya pengertian pada diri anggota bahwa mereka memiliki koperasi dan bersedia berpartisipasi dalam kegiatan koperasi. Selain itu adanya komunikasi yang lancar antara pengurus, pengawas dan anggota (Sukamdiyo, 1996: 48).

Pengukuran Kinerja Koperasi menurut Pedoman Pembinaan Koperasi, Departemen Koperasi & PPK RI No. 20/PPK/1997, adalah sebagai berikut :

Produktivitas, dapat dilihat dari aspek :

  • Asset Turn Over (Perputaran kekayaan), yaitu perbandingan rasio penjualan bersih terhadap total aset (standar 4x).
  • Profit Margin yaitu perbandingan rasio SHU terhadap total penjualan (standar 4%)
  • Net Earning Power (ROI) yaitu perbandingan rasio SHU sebelum pajak terhadap total aset (standar 7%)
  • Rentabilitas Modal Sendiri (ROE) yaitu perbandingan antara rasio SHU bersih terhadap modal sendiri (standar 10%).
  • Biaya karyawan yaitu perbandingan SHU terhadap total biaya karyawan (standar 4%).

Efisiensi, dapat dilihat dari aspek :

  • NOI  to OIB  yaitu perbandingan antara rasio SHU bersih terhadap pendapatan operasional bruto (standar 20%).
  • Biaya karyawan yaitu perbandingan rasio total biaya karyawan terhadap total pendapatan bruto (standar 30%)
  • Biaya organisasi yaitu perbandingan antara rasio total biaya organisasi terhadap total pendapatan bruto (standar 20%).
  • Biaya Overhead yaitu perbandingan antara rasio total biaya overhead terhadap total pendapatan bruto (standar 20%).

Pertumbuhan dapat dilihat dari aspek :

  • Omzet atau volume usaha yaitu perbandingan antara rasio omzet tahun ini terhadap omzet tahun lalu (standar 20%).
  • Net Asset (kekayaan bersih) yaitu perbandingan antara rasio net asset tahun ini terhadap net asset tahun lalu (standar 10%).
  • Sisa Hasil Usaha (SHU) yaitu perbandingan antara rasio SHU tahun ini terhadap SHU tahun lalu (standar 10%).

Kemampuan dapat dilihat dari aspek :

  • Likuiditas yaitu perbandingan antara rasio total aktiva lancar terhadap hutang lancar (standar 125%-200%).
  • Solvabilitas yaitu rasio perbandingan antara total aktiva (asset) terhadap total hutang (standar 110%-150%).
  • Rata-rata pengumpulan piutang yaitu perbandingan rasio saldo piutang (dikali 360) terhadap total penjualan piutang (standar 15 hari)
  • Cash Ratio yaitu perbandingan rasio kas dan bank terhadap aktiva lancar (standar 10%).
  • Acid Test Ratio yaitu perbandingan rasio aktiva lancar dikurangi persediaan terhadap aktiva lancar (standar 300%).

Cooperative Effect, dapat dilihat dari aspek :

  • Pengembalian jasa anggota dapat dilihat dari dua aspek ;  a) Jasa modal atau simpanan, dengan kriteria aspek bagian SHU untuk jasa simpanan (5%) b) Pengembalian jasa anggota jasa usaha, dengan kriteria aspek bagian SHU untuk jasa usaha (0,05%).
  • Total volume usaha kepada anggota, yaitu dengan kriteria aspek: perbandingan antara rasio total usaha kepada anggota terhadap seluruh total volume usaha koperasi (60%).
  • Pendidikan atau Pelatihan kepada anggota, yaitu dengan kriteria aspek direncanakan dianggarkan atau direalisasikan (50%).
Foto Profil dari admin This post was written by Ulasan Seputar Hukum Bisnis Indonesia.
About

Ulasan Seputar Hukum Bisnis Indonesia.

Tags:
Categorised in:

Show notes

  • on a map
  • as thread
  • by knowledge type
  • by person
  • by date

Leave a Reply