Menu Click to open Menus
Home » Artikel » Sebuah Wacana Tentang Revitalisasi terhadap Koperasi Di Indonesia

Sebuah Wacana Tentang Revitalisasi terhadap Koperasi Di Indonesia

(495 Views) Desember 17, 2015 12:58 pm | Published by | No comment

Oleh : Muhari, SH

revitalisasi-koperasi

Dengan mendasarkan pada konsep konstitusi Indonesia yang menyebutkan “Bahwa koperasi merupakan salah satu sokoguru perekonomian di Indonesia”,  maka sangat penting artinya apabila kita mau mengkaji secara lebih mendalam tentang kondisi perkembangan koperasi yang ada di Indonesia dewasa ini.

Dalam konteks pembangunan sistem perekonomian, koperasi dapat dijadikan media strategis dalam memerangi atau mengurangi angka kemiskinan, yakni koperasi dapat menjadi sarana untuk memberikan kesempatan kepada para ekonomi lemah (orang miskin) untuk secara bersama-sama anggota lainya untuk menguasai asset produktif dalam rangka mencapai kemandirian ekonominya.

Adapun wacana revitalisasi koperasi, dimaksudkan untuk lebih meningkatkan efisiensi, kinerja dan daya saing koperasi dalam menghadapi dinamika masyarakat yang terus berubah.

Secara garis besar, bahwa upaya-upaya revitalisasi koperasi yang ada di Indonesia dapat kami sampaikan sebagai berikut ini :

  • Menghilangkan pandangan atau “image negatif” yang telah melekat pada koperasi yang ada saat ini, dengan jalan selalu meningkatkan profesionalitas, kualitas produk layanan, dan sistem pengawasan yang sudah ada. Sebagai misal adanya image bahwa koperasi itu peninggalan rezim orba, munculnya beberapa permasalahan koperasi yang berimbas atau menimbulkan nota hitam pada wajah koperasi di Indonesia, dan lain sebagainya.
  • Peningkatan pemahaman “prinsip & asas-asas” koperasi kepada semua elemen yang tergabung dalam koperasi. Hal ini dimaksudkan agar di dalam melakukan pengelolaan atau menjalankan roda usaha koperasi agar tetap tidak melupakan prinsip dan asas-asas koperasi yang ada, atau dengan kata lain tidak sekedar profit oriented saja dan tetap memprioritaskan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan anggota koperasi.
  • Peningkatan “kemandirian” koperasi di dalam meningkatkan perkembangan usaha yang telah dijalankan selama ini. Kemandirian yang dimaksud disini adalah bagaimana caranya agar koperasi lebih mengandalkan kemampuan atau sumber daya yang dimilikinya sendiri untuk menghadapi tantangan dan hambatan yang harus dihadapi untuk kedepannya. Atau dengan kata lain, diupayakan agar koperasi dapat mengurangi angka ketergantungannya terhadap bantuan dari pihak luar. Ketergantungan disini bisa dari aspek permodalan, SDM, management, pemasaran, pengawasan, dan lain sebagainya.
  • Peingkatan “rasa percaya diri” koperasi, dengan cara selalu meningkatkan kualitas, variasi dan inovasi produk layanannya. Percaya diri disini dapat diartikan bahwa dengan situasi dan kondisi yang dimilikinya, koperasi tidak pantang menyerah dan merasa rendah diri didalam menghadapi para pesaingnya. Sebagai misal : para rentenir/lintah darat, BPR, Lembaga Perbankan merupakan lembaga pesaing bagi koperasi simpan pinjam yang akan selalu berusaha merebut hati para anggota koperasi.
  • Peningkatan keterlibatan atau “peran aktif anggota” dalam operasionalisasi usaha koperasi.
  • Peningkatan beberapa kebijakan pemerintah yang dapat mendukung bagi kemajuan dan perkembangan koperasi,  serta dapat memberikan peluang dan ruang gerak yang lebih luas bagi perkembangan koperasi untuk kedepannya.
  • Peningkatan proses komunikasi, koordinasi, dan konsilidasi antara pihak pemerintah dengan koperasi dan antara koperasi dengan koperasi lainnya yang ada di Indonesia pada umumnya.

 

Sedangkan secara teknis operasional, maka ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam melakukan upaya revitalisasi  di tubuh koperasi  sebagai berikut :

ASPEK MANAGEMENT

  • Pembenahan dan penyempurnaan struktur organisasi yang ada pada setiap koperasi-koperasi yang ada dewasa ini, dalam rangka penyesuaian terhadap kondisi perkembangan usaha dan mengacu kepada komposisi SDM yang ada.
  • Pembenahan dan penyempurnaan pada bidang organisasi & manajemen. Hal ini dapat dilakukan melalui penerapan peraturan perusahaan dan kedisiplinan karyawan, serta pemberian reward & punishment yang lebih baik.
  • Penguatan pada strategi management & fungsional koperasi dalam mencapai sasaran (core business), usaha kemitraan dan penyertaaan usaha, usaha rintisan, dan lain sebagainya.
  • Pemaksimalan pengunaan media komunikasi yang ada (baik yang bersifat formal maupun informal) dalam rangka peningkatan komunikasi, koordinasi dan konsilidasi antara elemen-elemen yang ada ditubuh koperasi (pengurus, pengawas, pengelola/karyawan, anggota).
  • Penguatan sistem pengawasan yang ada baik secara internal (pengendalian internal) maupun secara eksternal.

ASPEK KUALITAS SDM

  • Peningkatan skill & profesionalisme kerja SDM koperasi. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pelatihan, seminar, workshop, dan lain sebagainya.
  • Pemaksimalan proses transfer  ilmu pengetahuan, ketrampilan dan keahlian yang dimiliki oleh para tenaga professional kepada para karyawan koperasi. Secara teknis, kita dapat mencontoh upaya pengadaan “outshorsing tenaga ahli” yang dilakukan oleh PUSKUD Jawa Timur. Dalam prakteknya, ternyata upaya yang dilakukan oleh PUSKUD Jatim ini cukup berhasil dan efektif dalam  peningkatan kualitas karyawan/SDM yang dimilikinya.
  • Pembentukan sebuah badan khusus pada sebuah koperasi dan/atau beberapa koperasi sejenis yang mempunyai tugas pokok melakukan pembinaan kepada anggota koperasi, khususnya menyangkut aspek kelembagaan, management maupun bidang usaha.
  • Pengembangan dan pemanfaatan  media informasi & komunikasi antara koperasi dengan para anggotanya, serta dengan koperasi lainnya. Hal ini dapat diwujudkan melalui pembuatan majalah koperasi, bulletin, forum di media social (facebook, twiter, whatshapp), dan lain sebagainya.

ASPEK PERMODALAN

  • Peningkatan permodalan yang berasal dari anggota, yakni lebih meningkatkan inovasi atau variasi produk simpanan yang menarik anggota untuk dapat menyimpan kelebihan modalnya kepada koperasi daripada di tempat lain (sebagai misal: di lembaga perbankan atau lembaga keuangan lainnya).
  • Mengurangi angka ketergantungan koperasi terhadap bantuan dari pihak luar dan atau pemerintah. Sebagai misal; adanya pemberian dana hibah/CSR, kredit bunga ringan, dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong pihak koperasi untuk menjalin kerjasama saling menguntungkan dengan pihal luar yang dapat mendukung kemandirian koperasi dalam menjalankan roda usahanya.

ASPEK PRODUK LAYANAN

  • Peningkatan kualitas, variasi & inovasi produk layanan yang ada.
  • Penerapan standar mutu atau paramater khusus yang harus selalu dijaga dalam menciptakan produk layanan yang ada.

ASPEK SOSIALISASI PRODUK LAYANAN (MARKETING)

  • Peningkatan sosialiasi produk layanan melalui saluran-saluran komunikasi dengan para anggota yang telah ada selama ini, baik komunikasi formal maupun informal.
  • Peningkatan “rasa memiliki koperasi” terhadap para anggota koperasi dengan cara mendorong partisipasi aktif anggota dalam operasionalisasi usaha koperasi, sebab apabila anggota koperasi telah merasa memiliki koperasi yang tinggi maka mereka akan memilih/memprioritaskan penggunaan produk layanan koperasi daripada menggunakan produk layanan yang ditawarkan oleh pihak luar. Dengan demikian, dengan tingginya rasa memiliki koperasi yang ada pada anggota, secara otomatis akan menghemat biaya pemasaran/sosialisasi yang harus dikeluarkan oleh pihak koperasi.
Foto Profil dari admin This post was written by Ulasan Seputar Hukum Bisnis Indonesia.
About

Ulasan Seputar Hukum Bisnis Indonesia.

Tags:
Categorised in:

Show notes

  • on a map
  • as thread
  • by knowledge type
  • by person
  • by date

Leave a Reply