SEJARAH HUKUM

MENGAPA ADA HUKUM

Kebebasan Asasi & Batasannya. Manusia sebagai individu mempunyai kebebasan asasi yang berfungsi sosial sehingga dalam pelaksanannya harus disesuaikan dengan kepentingan orang lain yang juga mempunyai kebebasan asasi.

Contoh kebebasan asasi ?

Walaupun manusia memiliki kebebasan asasi namun sebagai makhluk sosial (zoon politicoon) manusia tidak bisa berbuat sekehandaknya karena terikat pula oleh kepentingan/kebebasan asasi orang lain.

NORMA SEBAGAI BATASAN

Guna menghindari konflik dalam masyarakat, dimana dalam menjalankan kebebasan asasinya seseorang tidak boleh melanggar kebebasan asasi orang lain maka masyarakat menciptakan norma-norma.

Apa itu Norma ?

Norma-Norma Yang Ada Dalam Masyarakat

Sebagai batasan melaksanakan kebebasan asasi dalam masyarakat kemudian ada dan berlaku norma-norma, yaitu norma agama, norma susila, norma adat maupun norma hukum.

Apa perbedaan norma-norma tersebut ?

NORMA HUKUM MASIH DIPERLUKAN

Jauh sebelum lahir dan berkembang norma hukum dalam masyarakat, norma susila, norma adat dan norma agama telah ada dan berkembang, namun masyarakat masih tetap memerlukan norma hukum. Alasan Norma Hukum Masih Diperlukan Antara lain :

  • Tidak semua orang mengetahui, memahami, menyikapi dan melaksanakan aturan-aturan yang ada dan berkembang dalam norma-norma tersebut.
  • Masih banyak kepentingan-kepentingan manusia yang tidak diatur oleh norma-norma yang ada, misalnya aturan lalu lintas, dll.

Sebutkan alasan lain ?

TUJUAN DICIPTAKAN NORMA HUKUM

Untuk menjamin kelancaran hidup dan kehidupan manusia dalam pergaulan di masyarakat, dengan tujuan agar terwujud ketertiban dalam masyarakat yang bersangkutan.

Satjipto Rahardjo, menyatakan :

“Bahwa masyarakat dan ketertiban merupakan dua hal yang berhubungan sangat erat, bahkan bisa juga dikatakan sebagai dua sisi dari satu mata uang. Susah untuk mengatakan adanya masyarakat tanpa ada suatu ketertiban, bagaimanapun kualitasnya. Kehidupan dalam masyarakat sedikit banyak berjalan dengan tertib dan teratur didukung oleh adanya suatu tatanan, karena tatanan inilah kehidupan menjadi tertib”.

ASAL USUL HUKUM DALAM ARTI ILMU PENGETAHUNAN

Romawi..

Hukum dalam arti ilmu pengetahuan yang disebut ilmu hukum berasal dari Bangsa Romawi. Bangsa Romawi menganggap mempunyai hukum yang paling baik dan sempurna bila dibandingkan dengan hukum yang ada dan berkembang di negara-negara lain.

KUH – Romawi

Kitab undang-undang Hukum Romawi ( KUH-Romawi) diciptakan pada masa Caisar Yustinianus, yaitu “Institutiones Yutinanae” yang disebut “Corpus JurisCivilis”. Adapun tujuan dilakukannya kodifikasi suatu hukum adalah agar tercipta kepastian hukum.

Hukum Romawi Dipelajari Bangsa-Bangsa Lain

Dalam mempelajari dan menyelidik hukum Romawi, bangsa-bangsa Eropa, seperti Perancis, Belanda, Jerman, Inggris mempelajarinya melalui 4 cara, yaitu :

  • Secara Teoritis;
  • Secara Praktis;
  • Secara Ilmiah;
  • Secara Tata Hukum.

Secara Teoritis

Secara teoritis (theoritische Receptie), yaitu mempelajari hukum Romawi sebagai Ilmu Pengetahuan, dalam arti setelah mahasiswa dari negara yang bersangkutan mempelajari dan memperdalam hukum Romawi kemudian di bawa kenegaranya untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dalam kedudukan dia sebagai pegawai di pengadilan ataupun badan-badan pemerintah lainnya.

Secara Praktis

Secara praktis (praktiche Receptie) karena menganggap hukum Romawi ini lebih tinggi tingkatnya dari hukum manapun di dunia, bangsa-bangsa Eropa Barat mempelajarinya dan melaksanakan atau menggunakan  Hukum Romawi ini dalam kehidupannya sehari-hari dalam negaranya.

Secara Ilmiah

Secara Ilmiah (Wetenschappetyk Receptie), Hukum Romawi yang telah dipejari oleh para mahasiswa hukum dikembangkan lebih lanjut di negara asalnya melalui perkuliahan-perkuliahan di perguruan tinggi. Hal ini karena tidak sedikit mahasiswa yang telah mempelajari hukum tersebut setelah kembali ke negaranya bekerja sebagai dosen.

Secara Tata Hukum

Secara Tata Hukum (Positiefrechttelyke Receptie), di mana setelah Perguruan-Perguruan Tinggi di Jerman dan Perancis, dan negara-negara tersebut dalam membuat dan melaksanakan Undang-undang selalu mengambil dasar dari hukum Romawi dijadikan Hukum Positif dalam negaranya masing-masing, walau demikian tentu saja penerimaan hukum ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi negaranegara tersebut.

SEJARAH HUKUM ABAD PERTENGAHAN

Sejarah merupakan suatu ilmu yang dapat mendeskripsikan perkembangan kehidupan manusia. Sejarah dapat mengungkapkan secara kronologis dan sistematis kebudayaan manusia termasuk aturan tingkah laku manusia.

Munir Fuady, menyatakan bahwa sejarah hukum adalah “Suatu metode dan ilmu yang merupakan cabang dari ilmu sejarah (karenanya bukan cabang dari ilmu hukum), yang mempelajari, menganalisis, memverifikasi, menginterpretasi, menyusun dalil dan kecendrungan, dan menarik kesimpulan tertentu tentang setiap fakta, konsep, kaidah, dan aturan yang berkenaan dengan hukum yang pernah berlaku, baik secara kronologis dan sistematis, berikut sebab akibat serta ketersentuhannya dengan bidang lain dari hukum”.

Sejarah hukum juga mempelajari proses terjadi dan pelaksanan sejarah di masa lalu serta perkembangannya dan keterkaitannya dengan apa yang terjadi di masa kini, baik seperti yang terdapat dalam literatur, naskah, bahkan tuturan lisan, terutama penekanannya atas karateristik keunikan fakta dan norma tersebut sehingga dapat menemukan gejala, dalil, dan perkembangan hukum di masa lalu yang dapat memberikan wawasan yang luas bagi orang yang mempelajarinya, dalam mengartikan dan memahami hukum yang berlaku saat ini.

Sejarah hukum tergolong sebagai pengetahuan yang masih muda,jika dibanding dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya yang terlebih dahulu lahir. Bahkan dibanding dengan disiplin ilmu lain, Ilmu Hukum masih menjadi perdebatan dan perkembangan untuk mengukuhkan diri menjadi ilmu yang sebenar ilmu. Salah satu masalah yang masih dihadapi oleh ilmu hukum terkait dengan hakikat pengetahuan apa yang dikaji (ontologis), bagaimana cara untuk mengeksplorasi suatu pengetahuan yang benar (epistemologis), dan untuk apa pengetahuan dipergunakan (aksiologis).

PANDANGAN HUKUM PADA ZAMAN ABAD PERTENGAHAN

Jiwa zaman masyarakat Abad Pertengahan adalah bersifat spiritual. Dalam hal ini semua kehidupan masyarakat bersumber dan berpedoman pada ajaran agama (Kristen).

Dalam bidang hukum muncul aliran ancilla theologiae, yaitu paham yang menetapkan bahwa hukum yang ditetapkan harus dicocokkan dengan aturan yang telah ada, yaitu ketentuan-ketentuan agama. Teori-teori mengenai hukum pada Abad Pertengahan ini dikemukakan oleh Agustinus (354-430), Thomas Aquinas (1225-1275).

AGUSTINUS :

Hukum abadi ada pada Budi Tuhan. Tuhan mempunyai ideide Abadi yang merupakan contoh bagi segala sesuatu yang ada dalam dunia nyata. Oleh karena itu, hukum ini juga disebut sebagai       hukum alam, yang mempunyai prinsip,”Jangan berbuat kepada orang lain, apa yang engkau tidak ingin berbuat kepadamu.” Dalam prinsip ini nampak adanya rasa keadilan.

THOMAS AQUINAS

Adanya hukum datang dari wahyu, dan hukum yang dibuat oleh manusia. Hukum yang didapat dari wahyu dinamakan hukum Ilahi positif. Hukum wahyu ada pada norma-norma moral agama, sedangkan hukum yang datang dari akal budi manusia ada tiga macam, yaitu hukum alam, hukum bangsa-bangsa, dan hukum positif manusiawi.

Hukum alam bersifat umum, sehingga perlu disusun hukum yang lebih jelas yang merupakan undang-undang negara yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat yang disebut hukum positif. Apabila hukum positif ini bertentangan dengan hukum alam, maka hukum alamlah yang berlaku.

Keadilan juga merupakan suatu hat yang penting. Meskipun Thomas Aquinas membedakan antara keadilan distributif, keadilan tukar-rnenukar, dan keadilan legal, tetapi keadilan legal menduduki peranan yang sangat penting, karena keadilan legal menuntut agar orang tunduk pada undang-undang, sebab mentaati hukum merupakan sikap yang baik.

Menurut Thomas Aquinas aturan alam tidak lain dari partisipasi aturan abadi (lex aeterna) yang ada pada Tuhan sendiri.

Pada abad pertengahan para ahli kemudian membedakan hukum dalam lima jenis, yaitu :

  • Hukum abadi (lex aeterna) rencana Allah tentang aturan semesta alam. Hukum abadi itu merupakan suatu pengertian teologis tentang asal mula segala hukum, yang kurang berpengaruh atas pengertian hukum lainnya.
  • Hukum ilahi positif (lex divino positiva) hukum Allah yang terkandung dalam wahyu agama, terutama mengenai prinsip-prinsip keadilan.
  • Hukum alam (lex naturalis) hukum Allah sebagaimana nampak dalam aturan semesta alam melalui akal budi manusia.
  • Hukum bangsa-bangsa (ius gentium) hukum yang diterima oleh semua atau kebanyakan bangsa. Hukum itu yang berasal dari hukum romawi,  lambat Iaun hilang sebab diresepsi dalam hukum positif.
  • Hukum positif (lex humana positiva) hukum sebagaimana ditentukan oleh yang berkuasa; tata hukum negara. Hukum ini pada zaman modem ditanggapi sebagai hukum yang sejati.

PERKEMBANGAN HUKUM DAN KENEGARAAN PADA ABAD PERTENGAHAN :

Pada Abad pertengahan pandangan masyarakat tentang susunan ketatanegaraan dan hukum sesuatu Negara yang ada didalamnya dibuat dalam bentuk dogma agama atau semata-mata atas dasar ketuhanan.

Pemerintah kerajaan diabad pertengehan di Eropa membiarkan segala sesuatu berdasarkan agama Kristen yang dimulai ketika kaisar konstantin Agung (305-337 M) menjadikan bizantium sebagai ibu kota romawi dan agama Kristen sebagai agama

Negara dengan mendirikan gereja-gereja disuluh daerah kekuasaannya, menyelenggarakan nyanyian-nyanyian bersama serta segala kegiatan berdasarkan gereja Kristen.

Sebelum berkembangnya Kristen di eropa, masyarakat Eropa telah mengenal ajaran-ajaran filsafat yunani yang berkembang sangat pesat dieropa dimana filsafat yunani telah melahirkan empat aliran besar yaitu mazhab plato, Aristoleles, Stoa dan Epicurus.

Aliran ini terjadi banyak perselisihan yang nantinya akan melahirkan suatu aliran yang menggabungkan aliran-aliran filsafat tersebut menjadi sebuah aliran baru (elektisiasme). Setelah perkembangan ini datanglah aliran Neo-platoisme dengan plotinus (205-270 M) sebagai tokoh yang terkenal.

Para pemikir Plotinus mencoba mengarahkan tata filsafat yang bersifat ketuhanan yang merupakan jembatan peralihan dari filsafat yunani kedalam aliran Kristen zaman pertengahan, sehingga banyak filosof mengajarkan tentang agama Kristen sebagai suatu tata filsafat yang akan menciptakan pola pikir masyarakat abad pertengahan pada tatanan kehidupan yang mengacu pada agama Kristen.

Selain Plotinus tokoh lain yang berpengaruh pada masa ini adalah Augustinus. Pemikirannya mengenai hukum dan kenegaraan dituliskannya di dalam buku De Civita te Dei, isi pokok daripada buku tersebut ditujukan untuk mengadakan pembelaan terhadap agama kristen, serta berisi konflik antara orang kristen dengan orang tidak beragama.

Augustinus banyak menjelaskan tentang konsep negara atau kota menurut dogma agama, dia membagi Negara kedalam dua kelompok yaitu: Civitate Die (kerajaan atau Negara tuhan), Civitate Terrena (Negara atau kerajaan duniawi), atau Civitate Diaboli (Negara atau kerajaan iblis).

Menurut Agustinus nagara tuhan (Civitate Die) bukanlah Negara dunia tetapi manusia didunia ini harus mempunyai semangat untuk mencapainya dan berhubungan dengannya, yang mengerjakan ini terutama adalah pihak gereja yang mewakili civitate die di dunia ini, meskipun kenyataannya tidak sepenuhnya menunjukkan semangat tersebut.  Sehingga apa yang ada diluar gereja tidak sepenuhnya sama atau tidak terasing sama sekali dengan kehidupan dari civitate die tersebut.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa bahwa Negara dunia dan gereja tidak sepenuhnya sama dengan Negara tuhan dan Negara duniawi (Civitate Terrena) akan tetapi kerajaan diaboli (Negara atau kerajaan iblis dan setan) adalah jelmaan dari kerajaan duniawi artinya dalam kerajaan atau negara duniawi ada kerajaan iblis didalamnya, disini Agustinus membuktikan bahwa, kerajaan Romawi jatuh karena kecendrungan bagi mereka terhadap keserakahan nafsu duniawi dan kemasyuran.

Selain Agustinus, tokoh abad pertengahan yang juga menyumbangkan pemikirannya demi perkembangan sejarah hukum adalah Thomas Aquinas. Thomas Aquinas lahir di desa Aquino, sebuah desa di antara Roccasecca dan Napoli, Italia, pada 25 Nopember 1224. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Aquinas dikirim oleh kedua orang tuanya untuk menjalani pendidikan di sebuah sekolah di pertapaan para rahib Benediktin dari Monte Cassino pada umur lima tahun. Pada tahun 1239 ia mulai kuliah di Universitas Napoli setelah ia tinggal selama sembilan tahun di biara tersebut.

Thomas Aquinas sangat terpengaruh oleh filsafat Aristoteles, menurut kodratnya manusia ialah makluk social dan makhluk kemasyarakatan, oleh karena itu manusia harus hidup berdampingan dalam satu masyarakat.

Thomas Aquinas menyatakan bahwa, tujuan Negara sangatlah identik dengan tujuan individu.  Tujuan manusia adalah mencapai kemuliaan setelah mati, jadi bukan kemuliaan yang bersifat keduniawian. Kemuliaan abadi hanya dapat dicapai melalui tuntunan gereja.

Tugas Negara adalah membuka dan memberikan kesempatan bagi manusia agar tuntutan dari gereja dapat dilaksanakan. Sehingga tugas utama Negara adalah menjaga keamanan dan perdamaian agarmanusia dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan bakat dalam suasana ketentraman. Dalam hal ini maka menurut Thomas Aquinas harus ada keseimbangan dan kerjasama antara Raja dengan Gereja.

Thomas Aquinas membedakan perbedaan hukum menjadi empat golongan yaitu :

  • Hukum abadi atau lex aeterna, ini adalah hukum dari keseluruhan yang berakar dari jiwa tuhan.
  • Hukum Alam, manusia adalah sebagai makhluk yang berpikir, maka ia merupakan bagian daripadanya. Ini adalah merupakan hukum alam.
  • Hukum Positif, ini adalah pelaksanaan dari pada hukum alam oleh manusia, yang disesuaikan dengan syarat-syarat khusus yang diperlukan untuk mengatur soal-soal keduniawian yang ada di Negara.
  • Hukum Tuhan, ini adalah yang mengisi kekurangan daripada pikiran manusia dan memimpin manusia dengan wahyunya kearah kesucian untuk hidup dialam baka, dan cara yang tidak mungkin salah, wahyu inilah yang terhimpun dalam kitab-kitab suci.

KITAB KANONIK SEBAGAI BUKTI TEKS NORMATIF

Dengan timbulnya pertentangan antara kaum canonik dan kaum legist, maka pada zaman abad pertengahan dilakukan kodifikasi hukum yaitu:

  • Kodifikasi yang diselenggarakan oleh Raja Theodosius dan Raja Justinianus. Ini adalah kodifikasi terhadap peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh negara. Kodifikasi ini disebut Corpus Iuris.
  • Kodifkasi yang diselenggarakan oleh Paus Innocentius. Ini adalah kodifikasi daripada peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleg gereja. Kodifikasi ini disebut sebagai Corpus Iuris Canonici.

Munir Fuady, dalam bukunya Sejarah Hukum, menggambarkan sistematika Corpus Iuris sebagai berikut :

  • Buku I : kaidah-kaidah umum;
  • Buku II : masyarakat Tuhan;
  • Buku III : pengajaran gereja;
  • Buku IV : jabatan suci gereja;
  • Buku V : harta benda sementara dari gereja;
  • Buku VI : sanksi-sanksi di Gereja.;
  • Buku VII : prosedur.

Pada Buku satu dibedakan menjadi sembilan bab yang mengatur antara lain ketentuan hukum gereja, kebiasaan, instruksi dan penetapan pada umumnya, perbuatan hukum administrasi tunggal, peraturan perundang-undangan, manusia dan hukum, perbuatan yuridis, kekuasaan pemerintah, kekuasaan gereja, aturan pelaksana, dan perhitungan waktu.

Pada Buku dua yang mengatur mengenai masyarakat tuhan dibedakan menjadi tiga bab antara lain keinginan kristus, peningkatan konstitusi gereja, institusi penasbihan dan kehidupan kerasulan. Buku III dan Bukum IV tidak diperinci kedalam BAB, sedangkan Buku V diperinci menjadi empat Bab antara lain peroehan harta benda, administrasi, serta kontrak dan peralihan harta.

Berdasarkan beberapa buku tersebu dapat diketahui bahwa, pada zaman tersebut telah dikenal hukum perdata, tata urutan peraturan perundang-undangan, perbuatan hukum dan lainnya. Sedangkan Sanksi pemidanaan diatur dalam Buku VI. Corpus Iuris CanoniciI juga mengatur mengenai

hukum acara dalam Buku VII. Dalam Buku tersebut telah diatur mengenai kewenangan mengadili, hakim, auditur, kedislipinan diruang pengadilan, para pihak, eksepsi, dan lainnya.

Do You Like This Articles ? Share it ..!!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*